Matahari tampak begitu besar di langit cakrawala. Ia tengah merangkak menenggelamkan dirinya. Dengan amat perlahan, semburan jingga mulai berpadu dengan biru keunguan.
Bersama dengan keagungan sang surya yang kian tenggelam, sekumpulan walet beterbangan mengiringi kepergiannya. Terlihat di tepian ladang, betapa tinggi dan rimbun pepohonan kelapa membentuk siluet hitam nan pekat. Dan para petani yang hendak pulang bergerak bagaikan wayang yang sedang dipermainkan dalang di atas panggung khatulistiwa.
Sore telah berlalu begitu cepat di sudut Kota Bekasi yang damai. Angin mulai mendorong sebagian awan tebal untuk menyelimuti orang-orang yang sudah terlelap. Gemuruh saling bersahutan, mengantarkan kilat dalam kegelapan. Aroma basah yang berpadu dengan keharuman melati dan pandan dari rintikan hujan kian merekah perlahan-lahan. Lambat laun, seiring berjalannya waktu, gumpalan awan hitam itu mulai menipis, terkikis tanpa daya lalu termusnahkan oleh kelembutan angin yang semakin dingin. Hujan lebat mulai mereda, tergantikan gerimis yang amat bersahaja. Perlahan langit pun kian terbuka. Dan kini, tampaklah sinar rembulan yang memancar di angkasa raya. Sinar rembulan yang terang seakan telah memberikan kehangatan. Seakan-akan sinarnya telah pecah ke segala penjuru, menjelma mengerlipkan ribuan bintang purba yang kilaunya tampak
anggun dan memesona.
Penulis| Indra M. Sahla
Editor| Wiwien Wintarto
Desain Sampul| DC Rockstreet
Jumlah halaman 410
ukuran buku: a5 (21cm)