Sampul The Sleeper of Jerusalem
Buku

The Sleeper of Jerusalem

oleh Adlan Bagus Pradana

Segera Terbit Terbit 2026
Sinopsis

Jerusalem belum benar-benar tidur ketika malam itu tiba.

Di tengah ketegangan menjelang penangkapan gurunya, seorang pengikut yang pendiam—yang kemudian dikenal sebagai the Sleeper—bersembunyi di sebuah gua di luar kota. Ia hanya berniat beristirahat hingga fajar. Namun ketika membuka mata, dunia yang dikenalnya telah lenyap.

Bukan satu malam yang berlalu.

Dua ribu tahun telah lewat.

Temple yang dahulu menjadi pusat kehidupan keagamaan telah hancur. Kekaisaran-kekaisaran telah bangkit dan runtuh. Kota Jerusalem yang dikenalnya berubah menjadi tempat di mana sejarah, ingatan, dan tiga tradisi agama hidup berdampingan dalam ketegangan. 

Di Jerusalem modern, sang Sleeper bertemu Eitan, seorang warga Israel yang pada awalnya menganggap lelaki aneh itu sebagai orang yang tersesat. Namun percakapan mereka segera berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengusik. Bahasa yang digunakan sang Sleeper terasa kuno, pengetahuannya tentang Jerusalem berasal dari zaman Romawi, dan ingatannya tentang malam ketika gurunya ditangkap terasa terlalu nyata untuk sekadar cerita.

Eitan kemudian mengetahui bahwa lelaki tersebut tidak sedang berpura-pura.

Ia benar-benar percaya bahwa ia baru saja terbangun dari malam ketika semuanya bermula.

Bersama Eitan, sang Sleeper menelusuri Jerusalem yang baru. Ia melihat Tembok Barat, sinagoga, gereja, dan masjid, menyaksikan bagaimana generasi-generasi setelahnya membangun tradisi, keyakinan, dan penafsiran atas sebuah kisah yang dahulu ia saksikan dari dekat. Namun ingatan sang Sleeper tentang gurunya tidak sepenuhnya sama dengan apa yang kemudian diwariskan sejarah. 

Perjalanan mereka membawa keduanya pada pertanyaan-pertanyaan yang semakin dalam: tentang siapa yang berhak berbicara atas nama Tuhan, bagaimana sebuah peristiwa diingat oleh generasi berikutnya, dan bagaimana keyakinan dapat berubah ketika sebuah pengalaman pribadi berkembang menjadi tradisi besar.

Ketegangan semakin terasa ketika mereka berhadapan dengan konflik Jerusalem modern. Batu, perisai, aparat, kemarahan, dan pertikaian membuat sang Sleeper menyadari sesuatu yang mengganggu: kota telah berubah, senjata telah berubah, bahasa telah berubah—tetapi pola pertikaian manusia ternyata tetap sama. 

Di tengah perjalanan tersebut hadir pula Yusuf, yang memberikan perspektif berbeda tentang tanah, manusia, dan kehidupan bersama. Baginya, persoalan tidak semata-mata tentang siapa yang menguasai tempat tertentu, tetapi tentang bagaimana manusia memperlakukan manusia lain yang hidup dalam perjalanan yang sama. 

Pada akhirnya, The Sleeper of Jerusalem bukan sekadar kisah tentang seorang manusia yang tertidur selama dua ribu tahun. Ia adalah novel tentang memori dan sejarah, iman dan tradisi, perbedaan dan persamaan, serta pencarian manusia terhadap kebenaran yang mungkin telah ditafsirkan berkali-kali oleh generasi yang berbeda.


Editor: Dr. Endang Soelistiyowati, M.Pd.

Layouter: Zen

Desain Sampul: AI-assisted