Perkembangan Artificial Intelligence (AI) dan Generative AI (GAI) telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan tinggi. Kehadiran teknologi seperti ChatGPT, Copilot, dan berbagai perangkat AI membuka peluang baru dalam pembelajaran, penelitian, pengembangan materi ajar, asesmen, hingga tata kelola pendidikan. Namun, kemajuan teknologi tersebut juga menghadirkan persoalan serius, mulai dari bias algoritmik, privasi data, plagiarisme, integritas akademik, hingga ketergantungan terhadap teknologi.
Buku Literasi AI dan Generative AI dalam Pendidikan Tinggi Islam: Model Pembelajaran Berbasis Etika dan Nilai Islam hadir untuk menjawab tantangan tersebut melalui pengembangan Islamic AI & GAI Literacy Learning Model (IAILLM). Model ini dikembangkan melalui pendekatan Research and Development (R&D) dengan tahapan ADDIE, mulai dari analisis kebutuhan, desain model, validasi ahli, hingga uji coba terbatas.
Buku ini tidak memandang literasi AI sekadar sebagai kemampuan menggunakan teknologi. Lebih jauh, literasi AI ditempatkan sebagai kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, menggunakan, dan menghasilkan sesuatu dengan AI secara kritis, kreatif, bertanggung jawab, dan beretika. Dalam konteks perguruan tinggi Islam, kemampuan tersebut dipadukan dengan nilai-nilai keislaman seperti ṣidq (kejujuran), amanah, keadilan, tanggung jawab, dan kemaslahatan.
Model pembelajaran yang ditawarkan mengintegrasikan student-centered learning, blended learning, dan experiential learning, dengan strategi Project-Based Learning, Case-Based Learning, serta Collaborative Learning. Proses pembelajaran diarahkan melalui tahapan orientasi, eksplorasi, praktik, integrasi etika, produksi karya, dan evaluasi reflektif. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga mampu menilai keluaran AI, memahami bias, menjaga integritas akademik, serta menggunakan teknologi secara aman dan bertanggung jawab.
Lebih dari sekadar membahas teknologi, buku ini menawarkan perspektif bahwa AI harus ditempatkan sebagai instrumen untuk mendukung manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, bukan sebagai pengganti peran manusia. Karena itu, transformasi digital di perguruan tinggi Islam perlu berjalan seiring dengan penguatan karakter, moral, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial.
Buku ini sangat relevan bagi dosen, mahasiswa, pengelola perguruan tinggi Islam, peneliti, pengembang kurikulum, serta pemerhati pendidikan dan teknologi yang ingin memahami sekaligus menerapkan pemanfaatan AI dan Generative AI secara lebih kritis, pedagogis, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.