Sampul Jalan Sunyi
Buku

Jalan Sunyi

oleh Najibul Mahbub

Segera Terbit Terbit 2026
Sinopsis

Jalan Sunyi adalah kumpulan puisi Najibul Mahbub yang lahir dari pengalaman, kegelisahan, pengabdian, dan perjalanan spiritual penyair dalam berhadapan dengan berbagai peristiwa kehidupan. Buku ini menjadikan puisi bukan sekadar permainan kata, melainkan jalan untuk menyuarakan apa yang dilihat, dirasakan, dan dijalani secara langsung. Bahkan gagasan utama buku ini dirangkum melalui ungkapan, “Lewat rasa, menjadi jalan sunyi untuk bersuara lewat kata.”

Perjalanan dalam Jalan Sunyi dimulai dari ruang yang sangat dekat dengan kehidupan penyair: ruang kelas dan dunia pendidikan. Puisi-puisi seperti Suara yang Tak Digaji Sepenuhnya, Negeri Dibesar­kan dalam Kelas, dan Negeri dalam Kelas menghadirkan sosok guru honorer yang tetap mengajar meskipun berada dalam keterbatasan. Pendidikan dipandang sebagai bentuk pengabdian dan jalan untuk membangun masa depan bangsa.

Dari ruang kelas, penyair bergerak menuju persoalan yang lebih luas: negeri, kekuasaan, korupsi, dan kehidupan sosial. Kritik terhadap korupsi menjadi salah satu warna paling kuat dalam buku ini. Tikus dan Petani, Modus Korupsi, Begal, Negeri Boneka, Tikus = Koruptor, Antara Palu dan Uang, hingga Marah Karena Korupsi memperlihatkan kegelisahan penyair terhadap praktik kekuasaan yang merugikan rakyat.

Namun kemarahan tersebut tidak berhenti sebagai luapan emosi. Di balik kritiknya terdapat kegelisahan tentang rasa memiliki terhadap Indonesia. Dalam puisi Negeri, penyair mempertanyakan mengapa masyarakat, khususnya generasi muda, semakin jauh dari rasa bangga terhadap tanah air. Negeri digambarkan tidak benar-benar pergi; yang menjauh adalah rasa memiliki.

Dimensi lain yang sangat menonjol adalah pesantren, santri, NU, dan tradisi keislaman Nusantara. Puisi-puisi seperti Santri, Kami Santri, Bukan Budak!, Indonesia Bertakbir, Santri Penjaga Warisan Ulama, Cahaya Tak Pernah Padam, Di Dalam Pelukan NU, dan NU! Nyala di Dada! memperlihatkan kecintaan penyair terhadap dunia pesantren, ulama, tradisi, persaudaraan, dan Islam yang ramah.

Pada bagian berikutnya, buku bergerak semakin dalam menuju ruang spiritual. Zikir, makam, guru, ulama, Gus Dur, ilmu, sufi, dan perjalanan menuju Tuhan menjadi bagian dari perenungan penyair. Aku, Dzikir dan Makam Sapuro menggambarkan pengalaman ziarah dan pencarian ketenangan batin, sementara bagian akhir seperti Sufi, Langkah Menuju-Mu, dan Di Jalan Cinta-Mu membawa pembaca pada tema cinta kepada Tuhan, kepasrahan, dan pencarian makna hidup.

Dengan demikian, Jalan Sunyi dapat dibaca sebagai perjalanan dari kelas menuju negeri, dari kegelisahan sosial menuju pesantren, dari kritik menuju kesadaran, dan dari hiruk-pikuk kehidupan menuju keheningan spiritual.

Apito Lahire dalam kata pengantarnya menyebut Najibul Mahbub sebagai “subjek peristiwa” karena puisi-puisinya berangkat dari peristiwa yang benar-benar dialami dan dirasakan penyair. Ia tidak sekadar mengamati dari kejauhan, tetapi hadir sebagai pelaku, guru, peziarah, pembelajar, sekaligus manusia yang terus berusaha memahami kehidupan.

Jalan Sunyi pada akhirnya adalah sebuah perjalanan batin: jalan yang mungkin tidak selalu ramai, tetapi justru dari kesunyian itulah lahir keberanian untuk bersuara, mengkritik, mencintai, berzikir, dan terus mencari cahaya.


Penulis Najibul Mahbub

Kata Pengantar Apito Lahire

Editor Najibul Mahbub & Evah Nafilati

Layout & Cover Design Najibul Mahbub